Minggu, 07 Desember 2014

Dianggap Orang Paniai Buaya, Pedagang Pasarkan Makanan Kedaluarsa & Daging Berracun






Emanuel You


Kejadian pada tahun 2007 silam, ketika saya melintasi Pasar Sentral Kali Bobo Nabire untuk mewawancarai mama-mama Papua yang berjualan, masih tersimpan di memori ingatan saya dan jika mengigat kembali sejumlah oknum pedagang ayam es bercakap-cakap itu, kadang membuat saya sakit hati,. Percakapan-nya seperti ini: si A berkata; “bang itu ayam suda busuk itu, buang suda,” “ah jangan, muat saja, di enaro orang akan beli,” jawab si B. masah kok gitu? ,” iya bang, ada banyak buaya diatas?. Ah masah?,”iya betul,” percakapan tidak berlanjut dan stop tiba-tiba karena melihat sejumlah orang Paniai lewat disamping mereka.

PELAN,namun pasti secara perlahan-lahan buaya-buaya, alias warga masyarakat kabupaten Paniai sedang meninggal satu persatu, sala satu akibatnya karena warga mengkonsumsikan makan-makan kedaluarsa hingga makanan berracun (danging yang di awetkan dengan,silikon cair, formalin dan arsen) telah lama di dagangkan oleh para pedang di kota Enarotali dan madi di kabupaten Paniai.

Seperti di beritakan oleh Papua Pos Nabire (PPN) setahun yang lalu, 16 orang warga kampung Uwebutu, distrik Yatamo, kabupaten Paniai menginggal akibat warga menghidangkan ayam es. Polemik ini adalah satu dari sekian ribu permalahan yang sedang terjadi di tanah Wissel Meren ini, namun terkesan pemerintah daerah kabupaten Paniai dalam hal ini intansi-inansi terkait menganggap permasalahan-permasalahan itu bukan luar biasa namun anggap biasa-biasa saja.

Kalau memang demikian dan ternyata itu benar-benar terjadi hingga nyawa manusia melayang,maka untuk mengatasi akan hal tersebut tanggung jawab siapa? silakan jawab sendiri.

Memang diakui bahwa Paniai tempatnya menjual produk bermerek yang suda kedaluarsa. Selain itu dagang ikan laut, ayam es yang terindikasi pengawetan daging dengan zat cair kimia, seperti arsen,formalin dan silikon cair. Hal tersebut muncul kuat dugaan atau sebagai jawaban sementara karena ayam es dan ikan yang di jual ketika es-nya mencair adanya warna-warna kebiruan dan berbau amis namun isi dagingnya masih keras, kendati demikian masyarakat tetap membeli dan menghidangkannya. Pantaslah sebagai konsumen yang masih misikin terhadap pengetahuan bahaya konsumsi makanan kedaluarsa dan pengawetan danging dengan zat cair kimia yang mematikan ini.

Perdagangan seperti itu sudah dalam berjalan bukan baru, namun hilang dari stop control pemerintah daerah secara rutin. Pada hal jika konsumsi makanan kedaluarsa dan daging berzat kimia seperti arsen, formalin dan slikon cair ini akan berdampak besar terhadap manusia terutama para wong cilik (rakyat kecil). Memang rakyat konsumsi makanan seperti ini pasti mati (bokai) kalau tidak otak manusia akan semakin tumpul, daya ingatan akan semakin lema dan selalu mengantuk, mengapa? Ya itu racun bukan makanan.

Terkait hal ini, seperti dilangsir di media harian PPN, intelektual muda Paniai juga sebagai Komisariat daerah Papua dan Papua Barat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (Komda PMKRI), Yanuarius Tekege,SP belum lama ini mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Paniai, untuk segera memanggil dan mendesak intansi terkait untuk melakukan infeksi mendadak terhadap makanan yang berbahaya terhadap tubuh manusia. Tidak cukup sampai disitu namun Yan berharap, perlu adanya pencanangan program pemeriksaan secara rutin terhadap maraknya perdagangan semua bentuk makanan yang berdampak fatal terhadap tubuh manusia.

Sunguh sadis, masyarakat di Paniai sedang mati perlahan-lahan sala satu akibat karena rata-rata masyarakat mengkonsumsikan makanan kedaluarsa hingga makanan yang mengandung racun yang kini marak di jual oleh pedagang bermerek ini. Sempat saya bertanya, “pa bagimana upaya intansi teknis melihat dan menangani persoalan makanan kedaluarsa yang sementara ini marak di jual di pasar dan kios-kios di Enagotadi dan Madi”? konon,” pemeriksaan kou keitai mege beu” artinya tidak ada dana untuk pemeriksaan,” jawab kepalah dinas terkait.

Ya….ya…yaaa…. konsumen yang sedang berimbas fatal ini, bukan manusia yang layak menghuni di negeri sendiri. Para wong cilik adalah benda tidak bernyawa atau di anggap binatang (buaya,red). Pemimpin semacam ini bukan untuk memberikan perlindungan,kenyamanan dan pelayanan kepada masyarakat secara rutin, kontinyu dan bersesinambungan, akan tetapi justru bertepuk dada dan buta mata terhadap kesengsaraan rakyatnya ataukah ia juga menganggap orang Paniai itu buaya? Untuk mendapatkan jawaban yang pasti tanya kepada rumput yang sedang bergoyang.

Memang pimpinan dewasa ini sulit menangisi penderitaan rakyat, apa lagi babi satu ekor mati di pinggir kali. Sangat tidak logis, hanya rahasial saja tunggu dana (mege) samapai korban berjatuhan juga tunggu dana karena tidak ada dana. Ha…haha…haaaa……, sangat ironis ya.

Barang kali karena intansi terkait sepakat degan percakapan yang menyatakan orang Paniai di vonis sebagai Buaya (pemekan daging atau binatang buas,red) karena itu jarang bahkan tidak pernah intansi-intansi terkait melaksanakan rahasial (pemeriksaan) terhadap makanan dan minuman kedaluarsa serta daging-dagingan yang diawetkan dengan zat kimia yang marak pasarkan di Enarotali dan Madi sejak dahulu kala.
Untuk itu di ingatkan kepada pemerintah daerah terutama intansi terkait jika sepakat orang Paniai bukan buaya, maka segerah memutuskan mata rantai persoalan yang fatal demi kalangsungan hidup manusia itu.

Senang tidak senang, suka tidak suka harus ada upaya tindak lanjut tegas dan berkesinambungan, bila perlu cabut surat ijinnya dan bersangkutan pulangkan kembali ke kampung halamannya. Jangan ada kata “tidak ada dana” (mege beu).

Barang dagangan tak bermutu yang kini sedang marak berjualan di pasar enarotali dan di kios-kios saatnya untuk di musnakan, bukan terdorang karena di sebut orang Paniai buaya,lalu mau ambil tindakan. Akan tatapi hal itu kewajiban pemerintah sebab iplikasinya berdampak fatal terhadap keberlangsungan hidup masyarakat.

Jika pembiaran terus terjadi dan kondisi ini berlanjut tanpa adanya usaha-usaha pemusnaan, maka kondisi kesehatan masyarakat kabupaten Paniai ada pada titik nadir.

Paniai banyak kasus yang selalu dipendamkan, karena kejadian-kejadian tersebut dianggap peristiwa yang biasa-biasa saja, sekalipun hingga menelan korban. jangankan tindakan angkat bicara saja tak bisa, lantas pemimpin sebelumnya apatis terhadap semua peristiwa ane-ane yang selalu terjadi di daerah ini. Namun pemimpin (bupati dan wakil bupati) sekarang selalu tanggap terhadap varian pemasalahan yang terjadi sehingga sementara ini semua kejadian bisa di meminimalisir.

Semoga makanan expair dan danging yang di awetkan dengan zat cair kimia ini pun harus mengatasinya. kasihan masyarakat Paniai mereka hanya tau beli lalu makan, tapi tidak perna mereka melihat bahwa lebelnya sudah kadaluarsa atau belum serta mereka tidak bisa mendeteksi daging yang di awetkan dengan zat cair kimia. Memang mereka (wong cilik,red) belum mendapat informasi positif tentang bahaya mengkonsumsikan makanan kedaluarsa atau makanan berracun sehinga terakhir “bokai” alias meninggal.

Setuju kesadarkan bupati dan wakil bupati yang merespon bahwa selama ini warga meninggal karena penyakit membahayakan seperti HIV/AIDS dan minum – mabuk (miras), sehingga rahasial hingga pemusnaan miras dan penanganan secara serius terhadap pengidap HIV/AIDS sedang di laksanakan secara rutin. Itu upaya yang luar bisa dan tidak ada bandingnya dengan nilai uang atau harta bendaya yang lainnya, pasalnya menyelamatkan satu nyawa itu berharga di mata Sang Penciptah serta ukuran manusia di dunia ini menyelematkan satu nyawa sama saja selamatkan seribu nyawa dan nilainya tidak ada bandingnya.
Usaha mepemerintah sekarang untuk meminimalisir kematian orang Paniai sedang membuahkan hasil. Akan tetapi ada satu permasalahan yang kini tidak terasa tapi pasti adalah masyarakat hidangkan makanan bermerk juga langsung bokai (meninggal,red) dan sedang mematikan urut saraf otak. Ada yang meninggalkan dunia, ada juga yang sedang mati urut saraf otaknya, sehingga orang Paniai yang dahulunya di kenal otaknya tajam dan daya ingatanya kuat itu, perlahan-lahan sedang beruba menjadi otak-otak orang Paniai semakin tumpul dan daya ingatanya semakin lemah.

Cobah kita menlongok ke sekolah-sekolah siswa SD dan SMP masih banyak yang tidak tahu membaca, menghafal dan menghitung. Ironisnya, suda di jelaskan atau suda di terangkan oleh guru, namun setelah selang waktu 5 menit kemudian guru bertanya balik kepada siswa/i, justru mereka bingung terhadap jawaban apa yang harus di jawab atas pertanyaan guru, pada hal barus saja guru tersebut memberikan penejelasan terkait kepada siswa/i-nya tersebut itu. Jangankan SD dan SMP, SMU saja suda sama dengan. Hal ini selain penyebab kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tidak berjalan dengan baik serta tenaga pendidik yang kurang professional dalam menterasfer ilmu pengetahuan kepada para pendidik, sala satu indikatornya juga di sebabkan karena mengkonsumsi makanan yang di awetakan dengan zat cair kimia. Bukan saja itu ada juga reaksi yang akan muncul yaitu sebelumnya tidak sering mengantuk, tetapi sekarang selalu cepat mengantuk, itu termasuk sala satu penyebab dari selalu konsumsi makanan yang suda tidak layak di konsumsikan.

Jika ada yang tidak yakin terhadap pernyataan saya ini bisa di telitih secara ilmiah. Hal ini orang sulit percaya tapi polemik ini bukan sebuah retorika tetapi ini sebuah realita. Jikalau ada yang terpanggil untuk meneliti pernyataan terkait pasti temuan akhirnya sama.

Permasalah tersebut perlu penanganan secara kontinyu dan bijaksana. Jangan hanya berdiam diri tunggu-tunggu proyek saja, tetapi bekerjalah secara maksimal untuk selamatkan rakyat. Anda ditempatkan disana bukan untuk apatis terhadap permasalahan daerah, tapi di tempatkan atau di berikan jabatan untuk membangun, mengayomi, melindungi dan mensejahterakan masyarakat. Untuk itu, layanilah sesama yang tertindas dan membangkitkan mereka yang lemah, bukan sebaliknya, menuju Paniai Sejahtera. ***


Penulis: Emanuel Bagou Youw (Jurnalis and penulis lepas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar