Jumat, 20 September 2013

INTIMIDASI DAN DISKRIMINASI TERJADI LAGI TERHADAP MAHASISWA PAPUA

Seorang Mahasis Papua, Zakarias Wenza Pikindu (27), Mendapatkan Intimidasi dan Diskriminasi Oleh Polisi dan Oknum TNI di Cililitan Hingga Wajah Berlumuran Darah, Serta Korban Diancam Untuk Ditembak


foto Zakarias Wenza Pikindu
JAKARTA,SuaraKaumTakBersuara.com- Setelah Diskriminasi dan Pelecehan Martabat Manusia sebagai orang Papua menimpa Thia Hubbi, Mahasiswa Trisakti, 4/9/2013, Kini kasus yang serupa walau bentuk tindakannya sedikit beda karena lebih pada Intimidasi dan Diskriminasi pun menimpah seorang Mahasiswa IPB (Mahasiswa Akhir Smester) pada Fakultas Pertanian, jurusan Proteksi Tanaman, Zakarias Wenza Pikindu (27), pada hari kamis, 19/9/2013. Korban dipukul berkali-kali dibagian wajah dan kepala hingga lumuran darah menutupi wajah, sampai korban ditodong untuk ditembak di Polsek Cililitan, Jakarta Timur.

Berikut ini kronologi yang dilaporkan oleh Korban.



KRONOLOGI



Pada malam hari, Rabu, 18 September 2013, saya bekerja di Laboratorium “MIKOLOGI(CENDAWAN/JAMUR)”. Saat kerja, saya ditelepon oleh seorang adik mahasiswa utnuk meminta bantuan saya mengendarai MOBIL, guna mengantar adik yang sakit dari RS KATILI ke RS CAROLUS JAKARTA. Karena adik Sakit, saya tinggalkan pekerjaan, kemudian pergi mengambil mobil di rumah Kakak Selvi Tebay untuk mengantar orang sakit ke RS CAROLUS JAKARTA.

Setelah tibah di RS Carolus, pasien kemudian kami amankan di Rumah Sakit. Karena Ngantuk, saya tidur sebentar dalam mobil, setelah mengurus Pasien. Hari mulai terang, saat itu hari kamis, 19 September 2013, kami kemudian kembali ke Bogor. Dalam kendaraan hanya Saya dan adik Rikardus Keiya. Kami mengambil jalur Kamp. MELAYU-Cililitan untuk masuk di Jalan TOL JAGORAWI.

Saya mengendarai kendaraan untuk lurus ke arah Cililitan, karena macet. Setelah lampu hijau, kendaran yang berada di depan saya langsung belok ke arah Kalibata, sementara saya mengambil jalan lurus ke arah Cililitan. Kemudian seorang polisi memberhentikanku mobil yang saya kemudia dan memeriksa surat –surat sebagai pengemudi.

Semua surat – surat lengkap. Namun, tanpa alasan, Polisi mengatakan, “harus diproses di Kejaksaan, karena, Bapak sudah salah jalur”. Kenapa Bapak? Saya hanya membawa Pasien dari Bogor ke RS. Carolus. Saat berkomunikasi dengan Polisi yang memberhantikan kendaraan saya, tiba-tiba, ada seorang TNI dengan pakaian Dinas dan beberapa orang aparat berpakaian preman datang dan memukuli saya. Mereka memukuli saya di bagian kepala dan wajah. Saya tidak membalas, dan hanya pasrah menerima pukulan-pukulan mereka. Akibat pukulan tersebut, darah pun mengalir dari wajah saya.

Saya dipaksa keluar dari mobil dan masuk ke dalam Mapolsek. Dalam Mapolsek saya ada di tengah-tengah beberapa orang Polisi, ada yang di depan dan belakang. Dalam Mapolsek, saya dipukul di kepala bagian belakang dan rasanya mau jatuh, namun saya berusaha untuk menahan. Setelah saya dipukul, saya digiring masuk ruang tahanan kecil dan diinterogasi sambil mengintimidasi saya. Polisi berpakaian preman mau menembak saya dalam proses Interogasi tersebut. Saya bilang silakan tembak kalau itu memang tugas Bapak untuk menembak.

Lalu Polisi yang menodong senjata untuk menembak saya itu bilang, kamu anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dia buka jaketnya dan bertanya, apakah kamu belajar bela diri? kalua tahu ilmu beladiri, mari kita ADU!
Saya menjawab “maaf Pak" Saya tidak belajar ilmu itu. Saya belajar ILMU PERTANIAN dan ILMU SEPAK BOLA saja.

Mereka bertanya, kenapa tidak MEMUKUL OM POLANTAS? lalu saya menjawab " Tangan saya, tangan orang PAPUA tidak bisa pukul orang semabarangan, karena, TANGAN saya adalah tangan MEMBERI bukan MEMUKUL.

Setelah itu, mereka menyuruh saya mencuci muka karena wajah saya berlumuran darah, dan saya digiring ke ruang pelayanan UMUM untuk membuat SURAT PERNYATAAN (SP). Dengan keterpaksaan, saya membuat pernyataan.

Poin - poin yang mereka suruh tulis dalam SP itu adalah
Bahwa pada hari Kamis, tgl 19 September 2013, telah terjadi pemukulan terhadap saya oleh masyarakat umum, bukan aparat Kepolisian atau TNI karena melanggar aturan Lalulintas. Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

Mereka mengintimidasi saya dan mengancam saya agar tidak lapor kasus ini ke KOMNAS HAM dan KONTRAS. Ada om polisi yang baru saja pindah tugas dari Brimob Kidung Halang Bogor ke Polres Jakarata Timur, dan ia bertanya, Kenal abang-mu yang di Brimob gak? siapa saja! sebut namanya! saya menyebut beberapa orang abang-abang saya yang Perwira maupun Bintara. Brimob itu terkejut dan menekan saya dengan berkata “jangan lapor kesana”.

Mereka mengancam saya dengan berkata Mau diurus proses Hukum atau Buat SP dan pulang ke Bogor! Karena saya berpikir tentang Penelitian saya yang belum selesai, maka, saya memutuskan buat SP dan pulang. Kemudian saya berkata untuk memilih SP yang mereka paksa dan kemudian saya dipaksa untuk menandatangani SP-tersebut. Saya dikeluarkan hari itu juga, setelah menandatangani SP.




Oleh: Marthen Goo
Laporan ini dari hasil wawancara korban.

Kamis, 19 September 2013

POLISI MEMBAYAR ADAT ATAS PELECEHAN PEREMPUAN PAPUA

Walau Kapolres Fak-fak Menyangkal dan Mengkambing Hitamkan Elsham Papua, Kini Terbukti Polisi Melecehkan Perempuan Papua Dengan Membayar Denda Adat

 
FAK-FAK, SuarakaKaumTakBersuara.com- Walau Kapolres berusaha menutupi kebenaran dengan mencari kambing hitam terkait pelecehan terhadap perempuan Papua di Fak-fak lalu, dengan mengatakan Elsham Papua merekayasa kasus tersebut, namun Polisi diam-diam datang ke korban dan membayar uang adat atas kasus pelecehan tersebut dan menghebohkan warga setempat, 18 September 2013.

Ketika menghadiri pertemuan antara Komnas Perempuan bersama Pemda Kabupaten Fakfak pada 12 September 2013, yang digelar di Ruang Rapat Kantor Bupati Kabupaten Fakfak, Kapolres Fakfak menyatakan bahwa ELSHAM Papua sengaja merekayasa laporan kasus pelecehan seksual yang dialami oleh enam orang perempuan. Tambah Kapolres, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Propam Polda Papua bahwa peristiwa 14 Agustus itu merupakan Fakta terbalik. “Pemeriksaan dan penggeledahan sudah dilakukan sesuai aturan, apakah seceroboh itu seorang polri yang professional dan punya aturan, yang lahir dari seorang mama bisa melakukan sedemikian, yang periksa adalah dua polwan ada saksi disitu, bisa melakukan hal yang seburuk itu, saat mengintograsi ditemukan bahwa ada bukti petunjuk bahwa ada yang mengajari mama-mama itu, dan dokumen sudah disita dan akan dijadikan alat bukti, sekarang ada di Polda dan Polda sedang menyusun tim untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya. Jawaban Kapolres tersebut atas pertanyaan Komnas Perempuan Sebelum Komnas menyampaikan hasil Investigasinya.

Menurut Freddy Warpopor, Sulit memang kalau Polisi periksa Polisi. Begitu gampangnya mereka melecehkan Perempuan-perempuan pribumi ini. Dalam foto ini adalah mama yang sedang menerima denda adalah Perempuan yang pertama kali masuk ruangan dan ditelanjangi oleh dua oknum Polwan di Polres Fakfak. Foto ini membuktikan bahwa Polisi sudah mengaku salah secara adat. saat ini mama sudah siap kembalikan denda adat tersebut dan buat sumpah adat. supaya kwalat akan turun buat siapa yang sudah putar balik Fakta ini. Hal itu disampaikan Freddy sambil menunjuk bukti berupa foto. Tambah Freddy,  jangan mengelak lagi kalau anak buah sudah merendahkan martabat perempuan Fakfak, maka Pak tidak perlu mencari Kambing Hitam lagi. Gambar ini terbukti bahwa anda salah dan telah melecehkan martabat perempuan Pribumi Papua. Jangan pikir perempuan Fakfak akan diam saja. Di forum adat mengaku salah! Terus, setelah membuat opini baru ooooo nanti lihat saja. Emamas negri Fakfak itu diuji dalam tanur api dan bentuk menjadi nilai harta yang mahal. Hati-hati, panasnya itu akan membuat hidup-mu tidak tenang. (Ten-G)

Bukti Foto Denda Adat/ Doc. Freddy


14 KORBAN KNPB DIPUKUL HINGGA BELUR

Sala Satu Korban Babak Belur

Di Hari Demokrasi, Saat Memperingati Hari Demokrasi Internasional, 14 Massa Aksi Ditangkap Dan Dipukul Hingga Babak Belur

Aksi Demo Damai yang dikoordinir KNPB dalam rangka peringatan Hari Demorasi Internasional 16 September, mengakibatkan penangkapan 14 aktivis PRD KNPB. Mereka dipukuli hingga babak belur oleh TNI / Polri. Bahkan, aksi dalam rangka memperingati demokrasi internasional itu harus dilakukan secara damai dan bermartabat, namun Aparat tidak melihat hari Demorasi sebagai ajang peringatan yang harus dihormati semua insan di dunia.

Menurut pemantauan, protes damai yang dimulai di tiga titik kumpul, dikuasai oleh polisi dan tentara Indonesia sejak pagi. Setiap massa aksi yang berkumpul dibeberapa titik, dibubarkan oleh Polisi dan beberapa dari mereka ditangkap dengan alasan yang tidak jelas.

Sebanyak 14 dari mereka yang ditangkap, dipukuli. Mereka yang dipukul, di antaranya adalah: Otto Kudiai, Yafet Keiya, Anipa Pigai, Agustina, dan Julian Nawipa. Mereka mengalami pukulan berat, akibatnya, bibir robek, dahi dan mata bengkak.

Koordinator arah Siriwini, Deserius Goo dan Yafet Keiya yang mengkoordinir massa di Pasar Karang pun ditangkap. Semua peralatan aksi disita oleh Polisi

14 orang yang ditangkap kemudian dibebaskan setelah mendapatkan pukulan yang membuat muka mereka tak bentuk lagi. Menurut beberapa anggota KNPB, 14 orang tersebut dibebaskan  dari kantor Polisi atas desakan dari Ketua Parlemen Nabire, wilayah Meepago, Abel Nawipa. Dalam pengaduan tersebut, Abel mengatakan, aksi ini hanya untuk memperingati hari Demokrasi Internasional, dan aksi ini dilakukan dari sorong sampai samarai, tidak hanya di Nabire.

Sesungguhnya, aksi Memperingati Demokrasi Internasional adalah aksi terhadap pentingnya Demokrasi di mana saja, sehingga semua orang di dunia harus menyatakan penghargaannya terhadap  nilai kemanusiaan, namun Polisi di Nabire terlihat brutal dan tidak menghargai penghormatan terhadap hari Demokrasi Sedunia di Papua, Khususnya di Nabire.
 
 
 
Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=299506950188843&set=gm.304629103008825&type=1&relevant_count=1&ref=nf

Kamis, 12 September 2013

SAATNYA SEMUA WARGA DI PAPUA DESAK DIALOG

Foto Marthen Goo
JAKARTA,SuaraKaumTakBersuara.com - Warga Papua, baik orang asli Papua maupun Non-Papua di Tanah Papua harus bersatu dan desak Dialog Jakarta Papua dan jangan terpropokasi oleh pihak luar yang ingin memecabelah persatuan warga Papua. Jika warga Papua bisa bersatu, maka impian bersama untuk hidup rukun dan damai di Papua bisa terjadi. Hal itu ditandaskan Marthen Goo.

Dalam komunikasi via selulernya Marthen Goo menegaskan, "saatnya semua warga yang hidup di tanah Papua bersatu mendorong Dialog dan mendesak Pemerintah Pusat untuk segera menggelar Dialog Jakarta Papua". Menurut Marthen, Warga di Tanah Papua jangan tertipu oleh Otsus Plus dan UU Pemerintahan Papua karena itu Un-Konstitusi yang sesungguhnya menciderai Konstitusi. Tegas Marthen "Jakarta sedang bingung untuk berikan sebuah produk hukum bagi Papua. UU Otsus sudah gagal dari tanah Papua. Hanya Dialog yang bisa digelar oleh Jakarta. Jika Jakarta menghindar dan memaksakan Produk hukum yang lebih kecil dari UU, sesungguhnya hanya memaluhkan Negara".

Tambah Marthen, "melihat situasi seperti itu, semua warga jangan terpancing dan terprovokasi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk menciptakan konflik baik anatar warga Papua dan Non-Papua, atau Warga Papua asli sendiri, dan lainnya, sebagai upaya untuk mengalihkan atau menggagalkan Dialog. Saatnya rakyat Papua bersatu dan desak Dialog Jakarta-Papua. Untuk menentukan Papua Damai dan Kerharmonisan warga Papua tercipta, sekarang tergantung persatuan dan komitmen bersama warga Papua".

Tegas Marthen "Saatnya bersatu dan aksi bersama untuk mendesak Dialog Jakarta-Papua agar warga Papua hidup damai dan sejahtera serta harmonis di Bumi Cenderawasih". (***Steve...)

Selasa, 10 September 2013

MARTHEN GOBAI DITEMBAK MATI



Seorang Warga Papua Tewas Akibat Tembusnya Peluru Panas Pada Kepala Korban

Marthen Gobai (30)/ Korban Tembak Mati
N A B I R E, SuaraKaumTakBersuara.com – Morthen Gobai (30thn), tewas ditembusi peluru pada bagian kepala. Ia pun meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak. Marthen ditembak dan dibawa ke Rumah Sakit Umum Nabire secara diam-diam dan hanya meninggalkan kebingungan yang mendalam, sementara pelaku penembakan tersebut, diduga dilakukan oleh Polisi. Kasus tersebut terjadi pada Kamis, 5/9/2013, di Kali Semen, SP 2, Wanggar, Kab. Nabire.

Marthen Gobai harus meninggalkan dunia walau belum waktunya tuk harus meninggal, akibat peluru menembusi kepala korban tersebut. Marthen Gobay memiliki 3 orang anak, dan ia pun adalah Pegawa Negeri Sipil. Korban bertempat tinggal di Kali Semen, SP 2, Wanggar, Kabupaten Nabire.

Kronologis Kejadian

5 Sepetember 2013 
pukul 17.00 WIT, Marthen Gobai di telpon oleh seseorang   untuk datang di depan bengkel motor. Setelah terima telpon, korban cepat-cepat pergi memenuhi panggilan itu, dan sebelum pergi, korban berpesan pada Istrinya, saya sudah Pinjam uang Rp 300 000,- ( Tiga Ratus ribu ),  jadi, saya pergi ambil  uang sama Bapak Pokuwai. kalau Bapak Pokuwai kasih pinjam, Rp. 200 000,- Ibu pakai,  Rp 100 000,- simpan untuk saya. Sesudah berkata bahasa itu, Marthen Gobai pergi  memenuhi panggilan  teman yang menelponnya itu.   istrinya langsung menuju ke rumah Pak Pokuwai. Sampaikan di rumah Bapak Pokuwai,  Ibu korban berkata pada Pak Pokuwai, saya datang ambil uang yang Bapak Pinjam. Bapak Pokuwai berkata benar”,  sambil angkat Dompet cabut   Rp.300 000,- , kemudian serahkan kepada ibu Marthen Gobai. Sesudah itu, ibu korban pulang kerumah. Pengunaannya uang itu lakukan seperti permintaan suaminya.


Pukul 19.30 WIT,  Karena Mabuk, Marthen Gobai di antar oleh seorang  anggota Polisi Polsek SP-1,   kebetulan  Polisi tersebut teman sekolah-nya waktu di SMP. Sampai di rumah, Polisi itu memberitahukan kepada Marthen Gobai, “Kamu sudah mabuk jadi tidak boleh keluar  dari rumah ya,  kamu istrahat saja , kalau kamu keluar lalu kamu ribut,  Polisi bisa tembak kamu”.
setelah menyampaikan bahasa itu, Polisi itu kembali ke Kantor Polsek.

 Pukul 21.00 WIT,   Marthen Gobai  melanggar apa yang dipesankan  Polisi yang  telah mengantarnya itu dengan keluar dari rumah  untuk  pergi  ke bagian SP 1. Istri Korban berusaha menghalangi kepergian suaminya dengan mengatakan kamu sudah  mabuk jadi tidak boleh keluar. Kamu ingat  tadi polisi yang antar kamu  bilang  itu. Kalau kamu keluar polisi  bisa di tembak kamu , jadi kamu tidak boleh keluar dari rumah.  Tinggal  dan istrahat sudah!”. Mathen Gobai tetap keluar dari rumah, sementara istrinya  merasa  tidak berhasil menahan   dan yakinkan  suaminya, sehingga   istrinya kejar dari belakang sambil teriak, hei Bapak, ini malam jadi mari kita kembali!”  Istri korban berkali-kali meneriakin suaminya, tetapi  Korban hanya berjata kamu yang kembali ke rumah. sepanjang jalan itu, istrinya  dengan  teriak sampaikan bahwa mari kita kembali sudah, tetapi suaminya cuek dan jalan terus tetapi.  istrinya tetap terus mengikuti suaminya  dari belakang.  Saat jarak ke Polsek hanya 20 Meter, istrinya melihat suaminya tidak melihat ke belakang lagi dan tetap  jalan terus.  Istri korban kemudian kembali ke rumah. Menurut Keterangan Istri korban bulu badan saya berdiri dan muncul perasaan tidak enak, tidak enaknya itu  jangan-jangan polisi tembak saya lagi, lebih baik saya  kembali kerumah.  Istri korban  kembali dari  jarak 15 meter   dari tempat berdirinya menuju Polsek, sementara  suaminya,  Alm Marthen  Gobai,  sudah mendekati  kantor polsek.
 Istrinya  tibah  di rumah  memberitahukan  kepada adik-adik dan saudara-saudaranya  bahwa saya  (istrinya) tinggalkan Dia di depan polsek jadi kamu pergi cari sudah.

Pukul 22. 20 WIT , Adik-adik bersama saudara-saudaranya pergi  mencari  korban. Mereka keliling mencari korban di  jalan raya wanggar, di sekitar Kali semen, rumah teman, rumah keluarga   dan seluruh  gang-gang jalan  sp 1 dan sp 2  tetapi tidak menemukan korban.  Di perempatan SP 1, mereka melihat masyarakat pendatang keluar rumah, lalu diskusi kelompok-kelompok,  sebelumnya itu terjadi sesuatu , namun keluarga tidak tanya kepada warga pendatang yang berkelompok itu. Tetapi mereka lanjut mencari di bagian yang belum mereka cari, namun tidak juga menemukan korban. Pencarian selama  1 jam 30 menit  tetapi mereka  tidak ketemu juga. Karena tidak ketemua Mereka pun pulang ke Rumah. Jarak  dari rumah  Alm Marthen Gobai Ke Polsek kurang lebih 300 meter.  


6 Septermber 2013
Pukul 00.30 WIT,  Seorang Ibu orang asli Papua ( tidak mau sebut nama )  yang menjaga keluarganya yang sedang Opname di ruang UGD RSUD, keluar mengambil angin di depan pintu masuk  UGD sambil  berdiri-berdiri, tiba-tibah,  Mobil Patroli  milik Polisi   masuk di depan UGD.   Polisi menurunkan  manusia, yang di bagian kepala sampai batas perut,  di isi dalam karung plastik  putih, kemudian dibawa    masukan di  UGD, di bagian ruang operasi. Sesudah memasukan manusia yang tewas itu, Polisi-polisi tersebut meninggalkan RSUD  Siriwini dan kembali pulang. Korban dimasukan untuk  di Visum luar. Setelah itu, mayat diantar diruang mayat.

Pukul: 09 00 WIT,  keluarga  mendapat laporan dari Polisi Bahwa Marthen Gobai  ada di Rumah Mayat di  RSUD Siriwini . Keluarga kaget  dan langsung menuju  ke ruang mayat  RSUD Siriwini. sampai di ruang mayat, benar mayat berbaring  di atas meja. keluarga  bersama aktivis HAM memeriksa tubuh korban. Tubuh korban tidak mengalami luka atau lecet dibagian baik luka tikam  maupun  luka bentuk lainnya,  hanya saja,  di bagian kiri  kepala  ada luka tembak, Luka tembak  masuk di alis mata bagian  kiri atas,  tembus bagian otak kecil bagian kiri kemudian terbongkar besar. Seluruh isi sum-sum otak terlempar keluar, sehingga di dalam otak sum-sum kosong, hanya kelihatan tulang otak dan  bungkus  sum-sum otak itulah yang keluar, tergantung di atas kulit kepala.

Keluarga korban  pergi minta hasil visum luar kepada dokter  yang memeriksa Marthen Gobai,  tetapi dokter tersebut mengatakan, saya tidak berani kasih keluar tanpa seijin polisi. Lalu keluarga mengatakan kami ini keluarga korban yang harus mendapat surat keterangan visum itu, namun Dokter tetap tidak mau menyerahkan surat keterangan visum itu.

Pukul 11.00 WIT, keluarga berkomitmen,  mayat korban harus dipikul  jalan kaki dengan rute dari  rumah sakit menuju ke Polres guna meminta “Pertanggungjawaban Polisi atas kematian  Marthen Gobai , karena polisi yang tembak mati di Polsek sp 1. Namun kesepakatan keluarga untuk memikul korban dengan jalan kaki itu, di Tolak  Yehuda Gobai Sth,Msi ( ketua I DPRD Nabire ).  Alasan Yahuda, kondisi keamanan di Nabire akhir-akhir ini tidak bagus , sehingga mayat harus diantar dengan menggunakan Mobil Jenazah  ke Rumah Korban di SP 2. Keluarga Setujuh, dan korban diantar dengan mobil  Jenazah ke Rumah Dukanya.
   
07  September 2013
Pukul 17.00 WIT, Keluarga korban mengadakan upacara pemakanan di kali semen sp2 Nabire.








Kronologis oleh: Marthen Goo