Selasa, 06 Januari 2015

APARAT MELAKUKAN PENYISIRAN SECARA BRUTAL DAN MENEMBAK SATU WARGA SIPIL DI TIMIKA

Satu Warga Sipil Ditembak Aparat TNI & Polri, Ribuan Warga Mengunsi Ke Hutan Atas Penyisiran Yang Sedang Dilakukan TNI dan Polri

Gamb. Penyisiran di Paniai

Tembagapura, 6/01/2015, Tim Militer (TNI/POLRI) melakukan penyisiran di 2 kampung (Utikini dan Towekima). Telah menewaskan seorang warga sipil atas nama Yondiman Waker. Peluru tembus bagian perut tidak jauh dari tali pusar (berjarak 2cm). Warga kampung mengunsi dan sementara masih Menghuni di hutan-hutan.

Penyisiran masih sedang dilakukan, sementara warga masih hidup di hutan. di kawatirkan korban akan makin bertambah, karena ibu dan anak turut dalam pengungsian besar-besaran dari dua kampung tersebut.

Mohon dukungan Advokasi atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Aparat dengan alasan pencarian Orang Terlatih Khusus (OTK), sementara target jelasnya adalah penyisiran dan membabatan rakyat sipil tak berdosa. Kasus seperti ini selalu dilakukan aparat, dengan mengatas namakan melakukan pencarian OTK, namun yang di sisir adalah masyarakat sipil dengan kekerasan fisik, seperti menembak warga sipil dan menyiksa mereka.

Mohon Advokasi semua pihak pemerhati kemanusiaan.

Jumat, 02 Januari 2015

JOKOWI BERJANJI DI PAPUA, KEKERASAN JALAN TERUS



Kekerasan dan Diskriminasi Rasial Berjalan Bersama Untuk Orang Papua, Pemerintah Terkesan Tak Serius Untuk Papua

Konflik di Papua masih terus terjadi walau Jokowi berkata akan melakukan pendekatan yang menurut diri-nya adalah pendekatan yang terbaik, entah referensi apa yang dipakai Jokowi seperti apa. Pernyataan itu keluar setelah perayaan Natal yang dilakukan di Jayapura-Papua pada 28 Desember 2014.

Sementara, pernyataan Jokowi atas kasus Paniai, 8 Desember 2014, lahir setelah 9 hari terjadinya kasus pembantaian tersebut. Sesungguhnya, ini soal kemanusiaan yang direspon ketika kasus itu terjadi. Namun soal kemanusiaan di Papua, Jokowi masih memakai istilah jedah beberapa hari. Ini pernyataan yang sangat misteris, yang harus direnung bagi kita sekalian.

Ternyata, kekerasan tidak berhenti setelah pernyataan yang dikeluarkan oleh Jokowi. Kekerasan itu terus terjadi hingga masuk tahun baru. Ini menunjukan bahwa, kekerasan di Papua tidak akan perna terselesaikan.


Merilis Kembali Peristiwa

8 Desember 2014
TNI dan Polri menembak mati 4 Siswa SMU, dan 4 Siswa SD luka-luka, 2 Siswa SMP luka-luka dan 16 lainnya luka-laku yang terdiri dari Mahasiswa, Masyarakat dan PNS. Pada kasus tersebut, aparat susah mengalihkan kasus tersebut menjadi kasus lain berdasarkan stigmatisasi yang selalu dipakai.

10 Desember 2014
Jokowi bersam Komnas HAM menyelenggarakan hari HAM di Jogjakarta.

24 Desember 2014
TNI masuk ke beberapa Gereja di Paniai dan membuat panik umat TUHAN di Gereja saat harus beribadah.

26 Desember 2014
Ada pernyataan Presiden terkait kasus di Paniai melalui Sekretariat Negara, Andi W, “alasan mengapa Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum mengeluarkan pernyataan terkait insiden penembakan warga sipil di Paniai, Papua”.

28 Desember 2014
Presiden berkata:
(1)   Saya melihat rakyat Papua tidak hanya butuh pelayanan kesehatan, tidak hanya butuh pelayanan pendidikan, tidak hanya pembangunan jalan, jembatan, dan pelabuhan saja. Tapi, juga butuh didengar dan diajak bicara,"
(2)   "Kita akhiri konflik. Jangan ada kekerasan, marilah kita bersatu. Yang masih di dalam hutan, yang masih di atas gunung-gunung, marilah kita bersama-sama membangun Papua sebagai tanah yang damai,"
(3)   "Semua harus mau dialog, berbicara dengan masyarakat. Karena, dengan berbicara itulah kita bisa tahu betul akar masalahnya itu apa. Tetapi, saya meyakini, dengan sebuah dialog syukur bisa pendek, persoalan itu bisa selesai,"
(4)   "Semua harus mau dialog, berbicara dengan masyarakat. Karena, dengan berbicara itulah kita bisa tahu betul akar masalahnya itu apa. Tetapi, saya meyakini, dengan sebuah dialog syukur bisa pendek, persoalan itu bisa selesai," Jokowi lanjut lafi dengan berkata “

31 Desember 2014
Ada penembakan versi Aparat di Deyai pada pukul 11.15 WIT. Penembakan tersebut melukai Bribtu Arif di Kampung Gakokebo. Penembakan dilakukan oleh OTK. OTK diinformasikan melarikan diri ke arah gunung di Iyaadimi. Sementara, masyarakat yang melintasi daerah Iyaadimi melihat banyak aparat yang berjaga-jaga dan melintas.  Tidak terdengar tembakan baik di Gakokebo maupun Iyadimi, dan situasi saat itu terlihat aman-aman.

1 Januari 2015
Kamis, pukul 21.00, Terjadi kekerasan yang mengorbankan Bripda Adriandi dan Bripda Ryan Hariansyah serta sekurity PT Freeport bernama Suko Miyartono.

2 Januari 2015
Pernyataan pihak polda Papua “Saat ketiganya patroli menggunakan kendaraan dari Kampung Binti menuju ke Kampung Uikini, mereka diadang oleh sekelompok orang tidak dikenal berjumlah lima orang”. Tribun News menegaskan “ kemungkinan kelompok kriminal bersenjata yang selama ini melakukan gangguan dan penembakan pada masyarakat serta anggota TNI dan Polri”. Status OTK tapi tribun menstigma-nya. Kriminal bersenjata. Entah siapa mereka.


Ada dua hal yang menarik, yakni:
1)      Setelah Presiden mengeluarkan pernyataan dengan bahasa manis-nya, kekerasan tetap terjadi;
2)      Kasus pada tanggal 31/12/2014 dan tanggal 1/1/2015, yang korban adalah Aparat, yakni Polri, salah satu-nya adalah Satpam.

Apa motivasinya?
1.      Apakah sebagai upaya pengalihan Isu kasus 8 Desember 2014...?
2.      Apakah sebagai upaya legalitas untuk hadir-nya Kodam...?
3.      Apakah sebagai upaya pencitraan...?
4.      Apakah sebagai upaya penambahan pasukan atau darurat militer...?
5.      Apakah sebagai upaya penambahan dana keamanan...?
6.      Apakah sebagai perlawanan terjadap kepemimpinan Jokowi...?
7.      Apakah sebagai upaya agar tidak ada proses Dialog...?
8.      Apakah sebagau upaya agar rakyat tetap bungkam dan tidak kritis...?
9.      Apakah sebagai upaya mematikan Psikologi dan Mentalitas rakyat...?


Peristiwa seperti ini sesungguhnya menunjukan bahwa sampai Kapanpun akan terus ada kekerasan yang dimainkan. Mungkin kekerasan itu akan berakhir kalau orang yang tidak suka ada Orang Asli Papua hidup kemudian punah dari tanah leluhur mereka. Siapa mereka yang tidak senang Orang Asli Papua hidup, tentu mereka yang sedang merampas seluruh kekayaan di Papua dan bahkan merampas tanah adat.

Situasi membuat orang Papua seakan tergantung pada Jokowi, selaku Presiden Republik Indonesia. Sementara, kasus di Paniai terjadi, Jokowi tidk menunjukan nilai kemanusiaannya. Nilai kemanusiaan itu harus ditunjukan dengan pernyataan belasungkawa, apalagi, Jokowi saat itu memperingati Hari HAM sedunia di Jogjakarta, pada 10 Desember 2014.

Sementra, setiap aksi anak-anak Papua, dilarang oleh Pihak Kepolisian. Dan itu tidak hanya di Papua. Di Jakarta pun pelarangan aksi mulai dilakukan. Entah apa motivasinya, tapi tentu sebagai upaya untuk membungkam hak Orang Papua dan ini bagian dari proses percepatan pemusnaan Orang Papua. Tentu, tanpa disadari ada praktek rasial yang dilakukan oleh Aparat Negara dan bahkan oleh Petinggi Negara seperti Jokowi dan Jusuf Kala. Jika Perlakuan rasis sudah dilakukan seperti ini, tentu ini ancaman terbesar yang harus dilihat dengan seksama.

Hal rasial lain yang bisa diperhatikan adalah, Aceh bisa digelar Dialog (Perundingan), sementara untuk Papua, Pemerintah Pusat selalu menghindar dan bahkan menutup diri dengan pernyataan negatif dan stigma miring. Kini, Dialog yang diartikan Jokowi pun terkesan direduksi subtansi dari Dialog. Jika Jokowi serius, sesungguhnya dia sudah memilih “Special Envoy”.


Penulis: Marthen Goo (Aktivis Kemanusiaan Papua)

Kamis, 01 Januari 2015

PERISTIWA PENEMBAKAN TERJADI DI DEYAI SAAT SIAP SAMBUT TAHUN BARU

Penembakan Terjadi Lagi di Kab. Deyai Sebagai Usaha Pengalihan Isu Terhadap Pembantaian Yang Dilakukan TNI & Polri Pada 8 Desember 2014


Orang Terlatih Khusus
SKTB- Deyai, sebagai upaya pengalihan Isu, kasus penembakan terjadi lagi di Deyai, 31 Desember 2014, pukul 11.15 WIT, oleh Orang Terlatih Khusus (OTK). Fokus penyambutan tahun baru pun berubah menjadi kepanikan karena dikawatirkan akan dilakukan penyisiran yang mengorbankan rakyat tak berdosa. Penyisiran yang slalu dilakukan Aparat dengan alasan pencarian OTK.

Hari ini hari pertama di tahun 2015. Semua orang menyambutnya dengan cara-nya masing-masing di tempatnya masing-masing. Banyak yang mensyaratkan untuk melupakan semua hal di tahun 2014. Sebagian orang mengambil waktu untuk refleksi, renung & doa dan bahkan ada yang melakukan hal negatif di tahun baru sesuai dengan keinginan mereka masing-masing.

Sementara, situasi rakyat di Papua, di beberapa Kabupaten justru tidak merasa aman. nyawa mereka sangat terancam. mereka seakan hidup di Negeri orang lain.

Setelah 8 Desember 2014 TNI & Polri menembak mati 4 siswa SMU, melukai 4 Siswa SD, melukai 2 siswa SMP, dan 16 mahasiswa/masyarakat/PNS, saat warga menyiapkan diri-nya untuk menyambut tahun baru, 31 Desember 2014, terjadi penembak di Kab Deyai tepatnya di Gakokebo, Distrik Tigi Barat oleh Orang Terlatih Khusus (OTK) dan mengenai seorang Anggota Polisi, Bribtu Arif. Menurut keterangan Aparat, OTK melarikan diri ke Dogiyai.

Anehnya, kejadian tembak oleh OTK tersebut tidak diketahui oleh Masyarakat. Dan bahkan Masyarakat dikagetkan dengan SMS yang beredar dan dari isu mulut ke mulut.

Sementara, di malam Natal, 24 Desember 2014, TNI masuk ke beberapa Gereja di Paniai dan membuat panik umat TUHAN di Gereja saat harus beribadah. keesokan hari, pada saat Natal, 25 Desember 2014, sebagian besar masyarakat tidak beribadah karena ketakutan.

Penembakan pada 31 Desember 2014, pukul 11.15 WIT, tentu hanya sebagai upaya pengalihan isu, agar ada legalitas bahwa peristiwa 8/12/2014, saat penembakan terjadi di Paniai, diisukan karena adanya penembakan sampingan oleh OTK. Sayangnya, skenario pengalihan isu ini harus mengorbankan seorang anggota Polisi. Skenario ini slalu dilakukan oleh aparat sebagai alasan kunci dan itu slalu dilakukan.

Untuk kasus 8 Desember 2014, Dewan Adat Paniai dengan tegas menegaskan kalau itu murnis kejahatan kemanusiaan yang dilakukan atas kesadaran oleh TNI dan Polri. Semua mengetahui kejahatan kemanusiaan itu sebagai upaya mempercepat punahnya orang asli Papua. Romo Manis Suseno dengan tegas menyesalkan kejadian kasus tersebut karena menurut Romo, kasus ini terus terjadi dan tidak hanya sekali.

Saat ini, Masyarakat yang berada di perbatasan Deyai, saat ini dinformasikan sedang panik, dikawatirkan akan ada penyisiran dengan alasan pencarian OTK. Rasa panik itu terjadi karena kebiasaan aparat, dengan alasa pencdarianb OTK, warga di sekitar penyisiran slalu disiksa dan diintimidasi bahkan rumah mereka dihancurkan. Kebiasaan ini selalu dilakukan di Papua. (***Stev)

Sabtu, 13 Desember 2014

WARGA PANIAI DIBANTAI, WAPRES DAN MEDIA MENGKERDILKAN DAN MENGALIHKAN KASUS KEJAHATAN KEMANUSIAAN

Semua Turut Dalam Upaya Percepatan Pemunahan Terhadap Orang Papua

Pernyataan Wapres sangat menunjukan "TIDAK ADANYA KEMANUSIAAN". Jika petinggi Negara ngomongnya kaya anak TK dan tidak menunjukan Etika kebangsaan, ini menunjukan bahwa, "Kaum Minoritas (Rumpun Minoritas), bisa menjadi ancaman dan target kepunahan. Dan itu justru diduga dilakukan dari petinggi Negara hingga keamanan Negara secara trstruktur.
Ini pernyataan Wapres yang harus dikritisi "Kenapa itu? Karena setempat-setempat, tidak ada pemimpinnya, karena itu TNI mengatasinya. Kalau ada rakyat kena tembakan selalu dianggap melangggar HAM, tapi kalau TNI/Polri (kena tembak) tidak melanggar HAM, itu melanggar HAM juga itu, sama-sama lah?" (Sumber:http://majalahselangkah.com/content/ini-komentar-wapres-jk-soal-penembakan-di-paniai). Tidak ada satu kepedulian dalam pernyataan itu. Sementara, telah jelas kalau Aparat gabungan melakukan pembantaian yang banyak mengorbankan anak-anak sekolah, baik anak-anak SD, SMP, SMA, dan kemudian Mahasiswa serta Masyarakat.

Semua orang Papua, baik yang di PNS atau Swasta, Mari Pekah!

Ini ancaman, tidak hanya bagi rakyat dan orang asli Papua lain tapi juga bagi kita semua. Kita tidak bisa melihat hal ini sepeleh. ini ancaman suatu bangsa yang harus diseriusi dan dikritisi.

Papua memiliki tiga rumpun dan satu bangsa, yang kini diambang kepunahan, apalagi, semua kekerasan di Papua terus terjadi sementara petinggi Negara turut serta dalam Menstigmatisasi kejahatan kemanusiaan itu, tanpa ada sedikit hati untuk menyelesaikan kasus di Papua.

Jokowi dan JK diberikan suara dari hati oleh rakyat Papua. Mereka juga didoakan agar menang menjadi Presiden. Tapi setelah dilantik, kekerasan justru terjadi di Papua. Kadang orang bilang itu setingan orang lain untuk memburukan Jokowi dan JK. tapi kalau lihat pernyataan JK, seakan itu hal yang biasa untuk dilakukan. Jokowi sendiri, tidak ada keseriusan untuk selesaikan kasus tersebut.

Kebanyakan yang korban adalah anak-anak, baik SD, SMP dan SMU tapi tidak ada pernyataan nilai kemanusiaan dari Presiden dan Wakil Presiden, apalagi yang lainnya. dan buruknya lagi, semua media menulis miring. ada yang menulis, penyerangan Polres dan Koramil ditembak mati. Masa anak-anak SD, SMP dan SMU menyerang Polres dan Polsek. ini pernyataan Finah yang dikeluarkan oleh media. belum lagi petinggi Aparat, baik TNI dan Polri dalam rilis mereka. Sementara, faktanya adalah “adanya pembantaian yang menewaskan anak-anak sekolah”.

Media saja melegalkan pembunuhan dari bentuk publikasi. Media tidak independen. apalagi yang lainnya. Media terlihat dengan jelas kalau berpihak pada Rezim yang justru menghancurkan tatanan kehidupan di Papua.

Ini tentut penjajahan dan intimidasi secara terstruktur dan melaus dan ini mengancam hidup orang Papua.

Mari Kita Pekah Melihat Kasus Ini, dan harus membangkitkan kekuatan untuk melawan semua bentuk penindasan dan pembantaian yang merencanakan memunahkan sebuah suku bangsa.



Penulis: Marthen Goo (Aktivis Kemanusiaan)

Minggu, 07 Desember 2014

Dianggap Orang Paniai Buaya, Pedagang Pasarkan Makanan Kedaluarsa & Daging Berracun






Emanuel You


Kejadian pada tahun 2007 silam, ketika saya melintasi Pasar Sentral Kali Bobo Nabire untuk mewawancarai mama-mama Papua yang berjualan, masih tersimpan di memori ingatan saya dan jika mengigat kembali sejumlah oknum pedagang ayam es bercakap-cakap itu, kadang membuat saya sakit hati,. Percakapan-nya seperti ini: si A berkata; “bang itu ayam suda busuk itu, buang suda,” “ah jangan, muat saja, di enaro orang akan beli,” jawab si B. masah kok gitu? ,” iya bang, ada banyak buaya diatas?. Ah masah?,”iya betul,” percakapan tidak berlanjut dan stop tiba-tiba karena melihat sejumlah orang Paniai lewat disamping mereka.

PELAN,namun pasti secara perlahan-lahan buaya-buaya, alias warga masyarakat kabupaten Paniai sedang meninggal satu persatu, sala satu akibatnya karena warga mengkonsumsikan makan-makan kedaluarsa hingga makanan berracun (danging yang di awetkan dengan,silikon cair, formalin dan arsen) telah lama di dagangkan oleh para pedang di kota Enarotali dan madi di kabupaten Paniai.

Seperti di beritakan oleh Papua Pos Nabire (PPN) setahun yang lalu, 16 orang warga kampung Uwebutu, distrik Yatamo, kabupaten Paniai menginggal akibat warga menghidangkan ayam es. Polemik ini adalah satu dari sekian ribu permalahan yang sedang terjadi di tanah Wissel Meren ini, namun terkesan pemerintah daerah kabupaten Paniai dalam hal ini intansi-inansi terkait menganggap permasalahan-permasalahan itu bukan luar biasa namun anggap biasa-biasa saja.

Kalau memang demikian dan ternyata itu benar-benar terjadi hingga nyawa manusia melayang,maka untuk mengatasi akan hal tersebut tanggung jawab siapa? silakan jawab sendiri.

Memang diakui bahwa Paniai tempatnya menjual produk bermerek yang suda kedaluarsa. Selain itu dagang ikan laut, ayam es yang terindikasi pengawetan daging dengan zat cair kimia, seperti arsen,formalin dan silikon cair. Hal tersebut muncul kuat dugaan atau sebagai jawaban sementara karena ayam es dan ikan yang di jual ketika es-nya mencair adanya warna-warna kebiruan dan berbau amis namun isi dagingnya masih keras, kendati demikian masyarakat tetap membeli dan menghidangkannya. Pantaslah sebagai konsumen yang masih misikin terhadap pengetahuan bahaya konsumsi makanan kedaluarsa dan pengawetan danging dengan zat cair kimia yang mematikan ini.

Perdagangan seperti itu sudah dalam berjalan bukan baru, namun hilang dari stop control pemerintah daerah secara rutin. Pada hal jika konsumsi makanan kedaluarsa dan daging berzat kimia seperti arsen, formalin dan slikon cair ini akan berdampak besar terhadap manusia terutama para wong cilik (rakyat kecil). Memang rakyat konsumsi makanan seperti ini pasti mati (bokai) kalau tidak otak manusia akan semakin tumpul, daya ingatan akan semakin lema dan selalu mengantuk, mengapa? Ya itu racun bukan makanan.

Terkait hal ini, seperti dilangsir di media harian PPN, intelektual muda Paniai juga sebagai Komisariat daerah Papua dan Papua Barat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (Komda PMKRI), Yanuarius Tekege,SP belum lama ini mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten Paniai, untuk segera memanggil dan mendesak intansi terkait untuk melakukan infeksi mendadak terhadap makanan yang berbahaya terhadap tubuh manusia. Tidak cukup sampai disitu namun Yan berharap, perlu adanya pencanangan program pemeriksaan secara rutin terhadap maraknya perdagangan semua bentuk makanan yang berdampak fatal terhadap tubuh manusia.

Sunguh sadis, masyarakat di Paniai sedang mati perlahan-lahan sala satu akibat karena rata-rata masyarakat mengkonsumsikan makanan kedaluarsa hingga makanan yang mengandung racun yang kini marak di jual oleh pedagang bermerek ini. Sempat saya bertanya, “pa bagimana upaya intansi teknis melihat dan menangani persoalan makanan kedaluarsa yang sementara ini marak di jual di pasar dan kios-kios di Enagotadi dan Madi”? konon,” pemeriksaan kou keitai mege beu” artinya tidak ada dana untuk pemeriksaan,” jawab kepalah dinas terkait.

Ya….ya…yaaa…. konsumen yang sedang berimbas fatal ini, bukan manusia yang layak menghuni di negeri sendiri. Para wong cilik adalah benda tidak bernyawa atau di anggap binatang (buaya,red). Pemimpin semacam ini bukan untuk memberikan perlindungan,kenyamanan dan pelayanan kepada masyarakat secara rutin, kontinyu dan bersesinambungan, akan tetapi justru bertepuk dada dan buta mata terhadap kesengsaraan rakyatnya ataukah ia juga menganggap orang Paniai itu buaya? Untuk mendapatkan jawaban yang pasti tanya kepada rumput yang sedang bergoyang.

Memang pimpinan dewasa ini sulit menangisi penderitaan rakyat, apa lagi babi satu ekor mati di pinggir kali. Sangat tidak logis, hanya rahasial saja tunggu dana (mege) samapai korban berjatuhan juga tunggu dana karena tidak ada dana. Ha…haha…haaaa……, sangat ironis ya.

Barang kali karena intansi terkait sepakat degan percakapan yang menyatakan orang Paniai di vonis sebagai Buaya (pemekan daging atau binatang buas,red) karena itu jarang bahkan tidak pernah intansi-intansi terkait melaksanakan rahasial (pemeriksaan) terhadap makanan dan minuman kedaluarsa serta daging-dagingan yang diawetkan dengan zat kimia yang marak pasarkan di Enarotali dan Madi sejak dahulu kala.
Untuk itu di ingatkan kepada pemerintah daerah terutama intansi terkait jika sepakat orang Paniai bukan buaya, maka segerah memutuskan mata rantai persoalan yang fatal demi kalangsungan hidup manusia itu.

Senang tidak senang, suka tidak suka harus ada upaya tindak lanjut tegas dan berkesinambungan, bila perlu cabut surat ijinnya dan bersangkutan pulangkan kembali ke kampung halamannya. Jangan ada kata “tidak ada dana” (mege beu).

Barang dagangan tak bermutu yang kini sedang marak berjualan di pasar enarotali dan di kios-kios saatnya untuk di musnakan, bukan terdorang karena di sebut orang Paniai buaya,lalu mau ambil tindakan. Akan tatapi hal itu kewajiban pemerintah sebab iplikasinya berdampak fatal terhadap keberlangsungan hidup masyarakat.

Jika pembiaran terus terjadi dan kondisi ini berlanjut tanpa adanya usaha-usaha pemusnaan, maka kondisi kesehatan masyarakat kabupaten Paniai ada pada titik nadir.

Paniai banyak kasus yang selalu dipendamkan, karena kejadian-kejadian tersebut dianggap peristiwa yang biasa-biasa saja, sekalipun hingga menelan korban. jangankan tindakan angkat bicara saja tak bisa, lantas pemimpin sebelumnya apatis terhadap semua peristiwa ane-ane yang selalu terjadi di daerah ini. Namun pemimpin (bupati dan wakil bupati) sekarang selalu tanggap terhadap varian pemasalahan yang terjadi sehingga sementara ini semua kejadian bisa di meminimalisir.

Semoga makanan expair dan danging yang di awetkan dengan zat cair kimia ini pun harus mengatasinya. kasihan masyarakat Paniai mereka hanya tau beli lalu makan, tapi tidak perna mereka melihat bahwa lebelnya sudah kadaluarsa atau belum serta mereka tidak bisa mendeteksi daging yang di awetkan dengan zat cair kimia. Memang mereka (wong cilik,red) belum mendapat informasi positif tentang bahaya mengkonsumsikan makanan kedaluarsa atau makanan berracun sehinga terakhir “bokai” alias meninggal.

Setuju kesadarkan bupati dan wakil bupati yang merespon bahwa selama ini warga meninggal karena penyakit membahayakan seperti HIV/AIDS dan minum – mabuk (miras), sehingga rahasial hingga pemusnaan miras dan penanganan secara serius terhadap pengidap HIV/AIDS sedang di laksanakan secara rutin. Itu upaya yang luar bisa dan tidak ada bandingnya dengan nilai uang atau harta bendaya yang lainnya, pasalnya menyelamatkan satu nyawa itu berharga di mata Sang Penciptah serta ukuran manusia di dunia ini menyelematkan satu nyawa sama saja selamatkan seribu nyawa dan nilainya tidak ada bandingnya.
Usaha mepemerintah sekarang untuk meminimalisir kematian orang Paniai sedang membuahkan hasil. Akan tetapi ada satu permasalahan yang kini tidak terasa tapi pasti adalah masyarakat hidangkan makanan bermerk juga langsung bokai (meninggal,red) dan sedang mematikan urut saraf otak. Ada yang meninggalkan dunia, ada juga yang sedang mati urut saraf otaknya, sehingga orang Paniai yang dahulunya di kenal otaknya tajam dan daya ingatanya kuat itu, perlahan-lahan sedang beruba menjadi otak-otak orang Paniai semakin tumpul dan daya ingatanya semakin lemah.

Cobah kita menlongok ke sekolah-sekolah siswa SD dan SMP masih banyak yang tidak tahu membaca, menghafal dan menghitung. Ironisnya, suda di jelaskan atau suda di terangkan oleh guru, namun setelah selang waktu 5 menit kemudian guru bertanya balik kepada siswa/i, justru mereka bingung terhadap jawaban apa yang harus di jawab atas pertanyaan guru, pada hal barus saja guru tersebut memberikan penejelasan terkait kepada siswa/i-nya tersebut itu. Jangankan SD dan SMP, SMU saja suda sama dengan. Hal ini selain penyebab kegiatan belajar mengajar (KBM) yang tidak berjalan dengan baik serta tenaga pendidik yang kurang professional dalam menterasfer ilmu pengetahuan kepada para pendidik, sala satu indikatornya juga di sebabkan karena mengkonsumsi makanan yang di awetakan dengan zat cair kimia. Bukan saja itu ada juga reaksi yang akan muncul yaitu sebelumnya tidak sering mengantuk, tetapi sekarang selalu cepat mengantuk, itu termasuk sala satu penyebab dari selalu konsumsi makanan yang suda tidak layak di konsumsikan.

Jika ada yang tidak yakin terhadap pernyataan saya ini bisa di telitih secara ilmiah. Hal ini orang sulit percaya tapi polemik ini bukan sebuah retorika tetapi ini sebuah realita. Jikalau ada yang terpanggil untuk meneliti pernyataan terkait pasti temuan akhirnya sama.

Permasalah tersebut perlu penanganan secara kontinyu dan bijaksana. Jangan hanya berdiam diri tunggu-tunggu proyek saja, tetapi bekerjalah secara maksimal untuk selamatkan rakyat. Anda ditempatkan disana bukan untuk apatis terhadap permasalahan daerah, tapi di tempatkan atau di berikan jabatan untuk membangun, mengayomi, melindungi dan mensejahterakan masyarakat. Untuk itu, layanilah sesama yang tertindas dan membangkitkan mereka yang lemah, bukan sebaliknya, menuju Paniai Sejahtera. ***


Penulis: Emanuel Bagou Youw (Jurnalis and penulis lepas)