Senin, 21 Oktober 2013

MARI DUKUNG TOP MODE CILIK PAPUA




Wanita Cilik Papua Akan Pentas di Jakarta
 
Ice Qhcristin Irene


Pemilihan Indonesia Top Mode Search 2013 akan digelar di Hotel Horizon, Jakarta, 24 s/d 28 Oktober 2013. Peserta yang akan mengikuti perlombaan tersebut datang dari berbagai Propinsi yang ada di Indonesia. Peserta tersebut tentunya adalah peserta terbaik di Propinsi mereka masing-masing, dan kini akan melakukan perlombahan untuk mendapatkan peringkat terbaik dari semua peserta dari seluruh Indonesia.

Dalam perlombahan tersebut, akan hadir Gadis Cilik Papua, Ice Qhristin Irene, yang genap usianya 3 tahun, mewakili Papua. Irene dari Wamena dan akan menunjukan Mode-nya di Jakarta. Tentu ini hal yang baru di dunia Mode bagi Papua, namun si Kecil Irene pun menunjukan kebisaan dirinya mewakili Papua.

Irene memohon bantuan dan dukungan doa dari semua orang Papua dan simpatisan, agar Irene bisa tampil percaya diri dan membawa nama Papua dalam acara Top Mode tersebut. Tentunya, dukungan kita, baik dalam doa dan kesemangatan, akan memberikan semangat yang tak terhingga nilainya tuk kemenangan Irene.

Mari berikan dukungan kita semua untuk kemajuannya Putri Cilik Papua. (M/G)

Senin, 14 Oktober 2013

KONFLIK PAPUA MESTI ADA PENILAI OBJEKTIF

Penulis: Fr. Honaratus Pigai
Doc. Hono Rius FB


Hampir semua kebijakan yang dibuat Pemerintah Indonesia untuk meredam konflik Papua, sudah tidak mapan lagi. Segala kebijakan yang dibuat malah mendatangkan konflik baru. Terkesan penanganan konflik Papua tidak dibuat dengan sepenuh hati. Malah kebijakan itu sebagai topeng untuk menutup kelakuan buruk pemerintah Indonesia di Papua.

Pihak pemerintah Indonesia menilai, konflik di Papua diciptakan oleh kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Karena dianggap separatis maka pemerintah tidak segan-segan menerjunkan militer dalam jumlah yang tidak sedikit. Penerjunan ini dengan tujuan demi pengamanan kondisi tersebut. Terutama menjaga aksi separatisme Papua. Ini dibuat demi mempertahankan keutuhan dan kesatuan negara.

Sementara, rakyat Papua menilai bahwa konflik yang terjadi, sengaja diciptakan oleh Pemerintah Indonesia, terlebih militer. Militer menjadi dalang pemicu konflik, demi bisnis dan perkaya organisasinya. Kerja sama apit antara militer dan pemerintah hanya untuk kepentingan ekonomi dan memanfaatkan kekayaan alam di Papua. sayangnya, pemerintah dan militer lupa memberdayakan manusia Papua, tetapi hanya menguras kekayaan alam yang ada.

Penilaian-penilaian ini menjadi pertahanannya masing-masing. karena itu, mesti ada pandangan objektif dan bukan subjektif semata. Harus ada penilaian objektif atau penilaian bersama demi menjaga kamanan dan kedamaian bersama di Papua. Maka penilaian subjektif dari masing-masing pihak mesti disatukan dalam proses dialog, agar terangkum objektifitas penilaian terhadap konflik yang selama ini berlangsung di Papua.

Dalam hal itu, JDP telah berusaha untuk membangun pemahaman untuk menyatukan perbedaan-perbedaan pandangan yang menimbulkan konflik. JDP telah bekerja untuk mendamaikan perbedaan pandangan dengan salah satu jalan, dialog. Maka layaklah kita semua menduklungnya, terlebih pemerintah mersti menyeriusi kerja keras JDP ini.

…salam…

MASSA KELUARGA KORBAN MENDATANGI POLRES NABIRE



NABIRE, SuaraKaumTakBersuara – Kantor Polres Nabire didatangi massa dari korban yang diduga akibat kekerasan yang dilakukan oknum Polisi, di mana massa korban meminta keadilan atas tewasnya keluarga mereka, pagi tadi, minggu, (13/10)

Doc. Nabire.Net
Sejumlah massa rakyat Papua mendatangi Polres untuk meminta keadilan atas tewasnya keluarga mereka. Massa masyarakat tersebut berasal dari Mamberamo. Massa berdatangan dengan membawa panah dan parang sebagai bentuk protes mereka atas perlakukan yang tidak adil atas tewasnya keluarga mereka. Aksi itu dilakukan atas tewasnya seorang yang berasal dari keluarga mereka di lokasi Pantai MAF.

Massa dalam aksinya mengaku mendapat informasi kematian keluarganya akibat dianiaya oleh oknum anggota polisi. Salah satu bentuk protes juga, massa melakukan blokade jalan di depan Bandara. Bentuk protes tersebut diharapkan ada respon positif dari Kapolres. 

Aksi pemalangan tersebut berhasil dengan Negosiasi yang dilakukan Pihak Kepolisian, yang kemudian didatangi juga oleh Bupati. Bupati Nabire pun mendatangi keluarga korban yang hendak melakukan aksi protes dan melakukan negosiasi, sekaligus memastikan kebenaran kasus yang terjadi.

Masyarakat masih meyakini kasus tersebut dilakukan oleh Oknum Polisi dari penjelasan keluarga korban dan kemudian, Bupati meminta kepada Pihak Kepolisian untuk menyelesaikan kasus tersebut. Setelah mendengar penyampaian kasus tersebut oleh Bupati terhadap pihak Kepolisian Nabire, dan warga meyakini kasus tersebut akan diselesaikan, kemudian warga meninggalkan Kantor Polres dan Pulang ke tempat mereka masing-masing, walaupun belum mendapatkan kepastian hukum dan tahapan serta target yang akan dilakukan oleh Pihak Kepolisian Nabire. (N/R)