Rabu, 03 Desember 2014

FILEP KARMA DIKENAL BERSAMA BINTANG KEJORA




Pdt. Dr. Benny Giay

Saat 1 Desember, di mana hampir semua orang Papua memperingati kemerdekaan Papua, melalui postingan FaceBook, Sang Tokoh Papua, Pak Dr. Benny Giay menyebutkan “ada dua peristwa besar yang membuat Pak Filep Karma mulai dikenal dipanggung Politik perjuangan Papua. (a) pengibaran BK (Bintang Kejora) di Menara Biak dari 2 sampai 6 juli 1998 ada pengibaran bendera; dan (b) peristiwa pengibaran BK (bintang Kejora) di lapangan sepak bola Abepura pada tanggal 1 Desember 2004. Pada tanggal 1 Desember 2004 itu Filep Karma dan Yusak Pakage ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara Abepura”.

Pak Benny pun menulis “gambar brikut: Frederika Korain dan Dominggus Pigay sedang membahas buku Filep Karma Seakan kitorang setengah binatang' di Kampus STT Walter Post Jayapura.Buku itu sebagai sebuah bentuk refleksi 10 tahun Filep Karma di dalam tahanan.


Peluncuran Buku berjudul "Seakan Kitorang Setengah Bintang" sebagai bentuk peringatan 10 tahun Filep Karma di Tahanan ini dihadiri oleh Para Pemerhati kemanusiaan dan para penggemar Filep Karma. (***STEV****)

Selasa, 02 Desember 2014

DISKRIMINASI RASIAL TERJADI DI JAKARTA



SKTB-Jakarta, Diskriminasi Rasial dilakukan oleh Polisi Republik Indonesia terhadap orang asli Papua saat demo damai, senin, 1 Desember 2014, di Bundaran HI, Jakarta.

Dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan Papua yang ke-53 tahun, tapi juga peringatan sistem penjajahan Indonesia di tanah Papua dari tahun 1961-2014, Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menggelar aksi damai di depan Bundaran HI, kemarin, senin, 1 Desember 2014. Aksi tersebut bertujuan ke Istana. Aspirasi ini sesungguhnya disampaikan pada Presiden baru dalam kepemimpinan baru setelah pelantikan beberapa bulan lalu.

Sayang-nya, aksi tersebut dilarang oleh Pihak Kepolisian, sementara, banyak orang yang melakukan aksi, diberikan kesempatan. Menurut Marthen Goo, “Sangat jelas kalau ada  Diskriminasi Rasial yang dilakukan oleh Polisi. Hal itu bisa kita lihat dengan, (1). Polisi melarang mahasiswa Papua aksi dengan blokade dan polisi berusaha memancing konflik untuk mengkriminalkan demo damai; (2). Pernyataan Komandan Polisi, ‘kami punya pengalaman di Papua’, yang sesungguhnya menegaskan bahwa upaya mematikan demokrasi di Papua diterapkan di Jakarta, khususnya kepada Orang asli Papua; (3). Semua orang di Jakarta bebas melakukan aksi sampai pada tujuan aksi dan waktu yang sudah ditentukan, dan, polisi hanya mengawal aksi. Untuk Papua, Polisi justru melarang mahasiswa Papua aksi di Istana, dan Polisi memblokade”.

Tambah Marthen, “ini sudah sangat terlihat dengan jelas bahwa, upaya mematikan Demokrasi terbukkti benar dilakukan oleh Negara melalu aparat keamanan mereka. Sementara di daerah lain selain di Papua, diberikan kebebasan terhadap rakyat dan massa aksi. Ini membuktikan bahwa Negara melalui aparat sangat ‘Diskriminasi terhadap Rasial’. Hal lain di Papua jika kita lihat, misal-nya ada penyisiran yang dilakukan atau ada konflik antara TPN dan Polisi, biasa-nya Polisi menyisir rakyat sipil Papua tak berdosa, sementara masyarakat di luar Papua diberi perlindungan, penjagaan dan bahkan makan serta minum. Ini tindakan Diskriminasi Rasial yang sudah dibangun lama di Papua, dan kini di Jakarta pun nyata dilakukan pada aksi Papua dengan perbedaan aksi”.

Jika Diskriminasi Rasial seperti itu dipertahankan terus menerus, dikawatirkan Bangsa Papua akan lebih cepat dibuat punah di Negara Indonesia ini.  (***STEV***)

Senin, 01 Desember 2014

BERSAMA TOKOH PAPUA



"Suara TUHAN Yang Mengganggu"

Tokoh Papua, Pdt. Dr. Benny Giat & Filep Karma
Oleh: Pdt. Dr. Benny Giay (Tokoh Papua)
Diambil dari tulisan lepas-nya di dinding FB-nya







Kemarin, minggu, 30/11/14, kami pergi ke Lembaga Pemasyaraktan Abepura selain:
a)             Untuk serahkan bukunya,  juga untuk beritahukan Pak Filep Karma bahwa kami akan adakan diskusi terbatas /luncurkan buku-nya yang berjudul "seakan kitorang setengah binatang" yang diterbitkan 'Deiyai' bulan november (2014) ini;

b)             Sambil  merayakan penerbitan buku ini, ini kami lakukan karena kami yakini bersama Filep kehadiran buku ini sebagai siasat-siasat yang TUHAN gunakan untuk "mengganggu" kita, meminta perhatian kita agar kita kembali: kembali kepada TUHAN, kembali gumuli persoalan hakiki anak manusia. istilah "mengganggu" & merayakn ini kita gunakan di sini dlm hubungan dengan apa yang dialami TUHAN sendiri (sebagaimana yang diangkat dalam Alkitab perjanjian lama: keluaran 3: ayat 7-9, “TUHAN yang terganggu mendengar ratapan penderitaan bangsa israel yg sedang disengsarakan dan diperbudak Firaun; lalu mengmbil langkah-langkah emansipasi.


c)             buku Pak Filep Karma ini juga kami ingin rayakan dan maknai sebagai "pesan Pak Filep yang jiwa dan komitmennya tidak tergoyahkan untuk merubah papua yang terus menerus diposisikan oleh kaun Melayu sebagai bangsa bodoh, binatang, primitif, kelas kera, dll, sejak dahulu kala, ber-abad-abad tahun sebelum menduduki Papua awal thn 1960an. Artinya:
C.1.      Buku Pak Karma ini membawa pesan dari balik jeruji (yang menganggu kita, Papua dewasa yang suka kompromi, plin plan, yang sundal, yang gampang dibeli, gila gelar-gelar  akademis, gila hormat/ pangkat / kedudukan yang didapat dengan cara-cara kurang ajar, dll, tetapi masih tepuk dada, dll;

C.2.      lewat buku ini yang adalah pesan-pesan dituturkan Pak Filep dipenjara beberapa waktu lalu ini: Pak Filep mengajak kita untuk melihat kebelakang  keberanian para tokoh pejuang Papua lain (selain Pak Filep Karma) yang telah berjuang habis-habisan menggunakan cara-cara tanpa kekerasan yang perna disiksa di lembaga ini, seperti Tomas Wanggai yang mengibarkan Bendera Melanesia Barat pada tgl 14 desember 1988 di Lapangan Mandala Jayapura yang kemudian mendekam di penjara ini sebelum dibuang ke Jawa; dan dikembalikan ke tanah ini dlm peti mati. Pendeknya,

C.3.      buku Pak Filep ini yang akan dibahas dalam diskusi terbatas ( di STT Walter Post Jayapura) ini mengingatkan kita tentang semua jeritan para pejuang papua yang lain seperti alm. Pak John Mambor dan Theys Eluay, Pdt. yudas meage, dll, yang perna mendekam dalam penjara ini. atau Pak Ferry Pakage yang buta seumur hidup. Terkait alm. Theys Eluay yang perna dikurung di lembaga ini, saya teringat akan "kain putih yang panjangnya puluhan meter yang digantung di samping dinding pagar (yg memisahkan SMP Bonaventura Sentani dan Lapangan /Makam alm. Theys Eluay. Pada hari pemakaman itu (novmber 2001), kita semua ramai-ramai bubuhkan tanda tangan setelah membaca tulisan besar di atasnya yang berbunyi" kami akan meneruskan perjuanganmu". Melalui buku ini, tuan Filep/ Theys/ Oto Ondowame/ Seth Rumkorem/ Kely Kwalik/ Konsup/ Angganeta/ Pamai/ Dadius Yogi, dll, para manteri/guru/ dll, smua bertanya kepada kita pada hari ini " adakah kita sedang meneruskan perjuangannya" dengan menyiapkan kader Papua ke depan menjadi ahli-ahli Kimia/Fisika yang berwibawa, filsuf & teolog yg unggul, ahli it yg handal; dokter medis yang disegani; pengamat sosial politik yang bisa dipercaya? dll??? TUHAN, tolong Bangsa Papua ini terjaga pada hari ini tgl 1 desmber 2014.

PERINGATAN HUT KEMERDEKAAN PAUA KE-53 DI JAKARTA

Rekam Peristiwa Aksi Nasional

Hari ini dikenal sebagai hari peringatan Kemerdekaan Papua yang ke-53. Hampir di seluruh belahan dunia, orang Papua dan bahkan para simpatisan kemerdekaan Papua Melakukan Aksi serentak, peringatan HUT PAPUA yang ke-53 tahun.

Di Papua, diinformasikan, banyak orang ditangkap hanya karena berkumpul untuk melakukan peringatan Kemerdekaan. Sebelum dilakukan penangkapan pada 1 Desember 2014, pada malam hari, Aparat Gabungan melakukan swiping ketata di beberapa kota di Papua. Di Jayapura, diinformasikan, swiping dilakukan di Sentani, Skyland, Jayapura-Kota, Kampung Harapan dan Expo serta Tanah Hitam.

Isu yang dikembangkan, warga membawa Bintang Kejora. Alasan BK, aparat melakukan swiping hingga sampai pada tas-tas warga yang kebetulan melintasi tempat swiping tersebut. Isu BK kemudian dihebohkan kalau akan dikibarkan di Makam Theys H Eluay. Aparat yang melakukan swiping di sentani, fokus mereka. Entah berapa jumlah “DANA” yang dikeluarkan untuk alasan pengamanan, apalagi lebih dari 5.000 pasukan yang dikirim ke Papua, belum lagi Pasukan BIN, BAIS, KOPASUS, dan Intel diluar dari Militer?

Bintang Kejora Pun Berkibar di beberapa tampat pagi tadi, di hampir seluruh Papua. Di Enarotali, Bintan Kejora Berkibar sekitar 30 Menit. Siapa yang menaikan BK, sampai saat ini belum diketahui.


Aksi di Jakarta
Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melakukan aksi peringatan HUT Kemerdekaan Papua di Jakarta. Aksi tersebut direncanakan akan dilakukan di depan Istanah. Massa aksi mulau melakukan aksi awal di depan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Aksi tersebut dilakukan pada pukul 08.00. Jumah massa yang lebih dari 500 orang.

Saat Massa aksi melakukan aksi damai, Massa aksi memberikan ruang pada kendaraan yang melintasi Bundaran HI. Aksi berjalan dengan damai. Saat massa aksi diarahkan untuk menuju Istanah, Polisi mulai memblokade jalan, dan tidak mengijinkan massa aksi untuk melakukan longmars ke arah Istanah. Polisi memblok jalan massa.

Melihat Polisi melarang massa aksi untuk longmars ke Istana, massa aksi kemudian berusaha untuk menerobos pertahanan Polisi. Saling dorong mendorong pun terjadi. Sementara itu, Intel lainnya menarik satu massa aksi untuk menculik-nya, namun karena dilihat oleh massa aksi yang lain, seorang massa aksi yang ditarik untuk diculik berhasil ditarik kembali oleh massa aksi lainnya. Kondisi seorang massa aksi yang mau diculik itu dalam bercakan darah karena sempat diinjak dan diseret, kemudian pakaiannya sobek.

Polisi melakukan tindakan kriminal dengan menyiksa seorang massa aksi, kemudian mencuri bensi milik mobil komando dan memutuskan semua kabel-kabel pada Mobil komando tersebut. Ban dari kendaraan itu juga dibuat kempes.

Sementara, Komandan Polisi yang memimpin Polisi di lapangan, mengeluarkan bahasa propokasi yang memicuh amarah baik massa aksi dan memaksa Polisi untuk tetap memblokade. Proses dorong mendorong kemudian berhenti saat massa aksi diperintahkan oleh Pemimpin aksi untuk duduk di tempat.

Polisi berusaha untuk membubarkan massa aksi, namun mereka agak kesulitan karena massa aksi memilih untuk duduk.

Massa kemudian berdiri dan melakukan aksi untuk berusaha menerobos pertahanan kepolisian, namun Polisi tetap memblokade jalan-nya massa aksi. Proses dorong mendorong pun terjadi lagi, namun tetap sama, Polisi tetap melarang aksi mahasiswa Papua terjadi. Setelah massa aksi duduk kembali, massa aksi diarahkan untuk tetap semangat dan kemudian membubarkan diri, setelah pembacaan pernyataan Sikap bersama. Aksi kemudian berakhir pada pukul 12.05.

Massa Aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menuntut:
1.     Pemerintah Indonesia mengakui Kemerdekaan Indonesia dan melakukan Penentuan Pendapat Rakyat Ulang;
2.     Tarik Militer dari tanah Papua;
3.  Pemerintah menutup perusahaan-perusahaan asing di Papua seperti Freeport.
4.     Pemerintah Hapus otonomi khusus, UP4B dan pemekaran wilayah di Papua.



Setelah aksi berakhir, massa aksi melakukan tarian adat sambil menunggu kendaraan jemputan. Massa aksi meninggalkan Bundaran HI pada pukul 13.02.


Tindakan Aparat Dalam Aksi:
1)      Melarang Massa Aksi untuk aksi ke Istanah dan memblokade massa di Bundaran HI;
2)      Dorong mendorong dilakukan oleh aparat sebagai upaya mengkriminalkan aksi damai;
3)      Melakukan penyiksaan terhadap seorang massa aksi dengan menyeret dan menginjaknya kemudian pakaiannya disobek dan berkeinginan untuk menculiknya;
4)      Bahasa Komandan Polisi mengandung Unsur Provokasi meliputi:
a)      Kami minta massa aksi tidak membuat macet jalan, sementara Polisi memalang jalan agar masa aksi tidak aksi ke Istanah, walau aksi damai dan massa aksi memberikan jalan bagi kendaraan;
b)      Kami perna bertugas di Papua. Pernyataan ini tentu menunjukan bahwa pelarangan aksi terhadap orang Papua yang selalu diterapkan di Papua sedamg di terapkan juga di Ibu Kota Negara Indonesia Khusu untuk orang asli Papua. Tentu ini tindakan rasis

5)      Membuat Kempes Ban Mobil Komando;
6)      Polisi mencuri bensi milik Mobil Komando;
7)      Polisi memutuskan semua kabel di Mobil komando;

8)      Polisi berharap massa aksi untuk segera membubarkan diri-nya dan tidak melakukan aksi;
9)   Polisi memakai 4 mobil bus, 2 mobil gas air mata.