Senin, 14 Oktober 2013

MASSA KELUARGA KORBAN MENDATANGI POLRES NABIRE



NABIRE, SuaraKaumTakBersuara – Kantor Polres Nabire didatangi massa dari korban yang diduga akibat kekerasan yang dilakukan oknum Polisi, di mana massa korban meminta keadilan atas tewasnya keluarga mereka, pagi tadi, minggu, (13/10)

Doc. Nabire.Net
Sejumlah massa rakyat Papua mendatangi Polres untuk meminta keadilan atas tewasnya keluarga mereka. Massa masyarakat tersebut berasal dari Mamberamo. Massa berdatangan dengan membawa panah dan parang sebagai bentuk protes mereka atas perlakukan yang tidak adil atas tewasnya keluarga mereka. Aksi itu dilakukan atas tewasnya seorang yang berasal dari keluarga mereka di lokasi Pantai MAF.

Massa dalam aksinya mengaku mendapat informasi kematian keluarganya akibat dianiaya oleh oknum anggota polisi. Salah satu bentuk protes juga, massa melakukan blokade jalan di depan Bandara. Bentuk protes tersebut diharapkan ada respon positif dari Kapolres. 

Aksi pemalangan tersebut berhasil dengan Negosiasi yang dilakukan Pihak Kepolisian, yang kemudian didatangi juga oleh Bupati. Bupati Nabire pun mendatangi keluarga korban yang hendak melakukan aksi protes dan melakukan negosiasi, sekaligus memastikan kebenaran kasus yang terjadi.

Masyarakat masih meyakini kasus tersebut dilakukan oleh Oknum Polisi dari penjelasan keluarga korban dan kemudian, Bupati meminta kepada Pihak Kepolisian untuk menyelesaikan kasus tersebut. Setelah mendengar penyampaian kasus tersebut oleh Bupati terhadap pihak Kepolisian Nabire, dan warga meyakini kasus tersebut akan diselesaikan, kemudian warga meninggalkan Kantor Polres dan Pulang ke tempat mereka masing-masing, walaupun belum mendapatkan kepastian hukum dan tahapan serta target yang akan dilakukan oleh Pihak Kepolisian Nabire. (N/R)

Senin, 07 Oktober 2013

AKSI DAMAI MAHASISWA UNIVERSITAS CENDERAWASIH DIHADANG POLISI



JAYAPURA, SuaraKaumTakBersuara – Aksi menuntut ruang demokrasi di Papua oleh Mahasiswa Universitas Cenderawasih (UNCEN), siang tadi, senin, 7/10/2013, berusaha dihalangi oleh Polisi Republik Indonesia, melalui Polresta Jayapura.

Melalui akun Face Book-nya, Yusak Pakage (Aktivis Papua), merilis, “Hari ini Badan Eksekutif Mahasiswa Uncend ( Unversitas Cenderawasih) adakan Demo Damai ke DPR Provinsi Papua di Jayapura dengan tuntutan, buka ruang demokrasi bagi orang Papua di tanah Papua, dan juga mereka menuntut Hak Asasi Manusia di Papua harus di hargai. Mereka (mahasiswa) datang tidak terlalu banyak, namun Polisi Indonesia dibawa Pimpinan KAPOLRESTA-Jayapura, Alfred Papare, siagakan Polisi bersenjata menghalangi Mahasiswa yang Demontrasi ini”. Lanjut Yusak dalam akunya, “ini saya jujur. klau mahasiswa adakan gerakan sedikit, itu pasti, Polisi tembak mereka, tetapi, bersyukur, mahasiswa sampaikan aspirasi dengan tenang, jadi, polisi yang haus darah orang Papua itu, niat jahat mereka tidak terlaksana.

Tulisan tambahan di Akun FB-nya, Polisi Indonesia masih belum puas tembak mati orang Papua. sedikit masalah atau demo damai, Polisi Republik Indonesia Menghalangi dengan senjata bahkan siap tembak mati Rakyat sipil. Jangankan masyarakat di Pelosok, hari ini, Mahasiswa yang Demo ke DPR-P saja, Polisi bersenjata disiagakan. Sayang, itulah Polisi Indonesia, dan Pak Alfred Papare yang jadi KAPOLRESTA Jayapura, dia anggap Papua ini dia punya. Selama dia jadi KAPLRESTA, banyak kasus terjadi, dia rasa, dia itu sudah, tidak ada lain, yang lain itu bukan manusia. Memang iblis betul. 

Sementara dalam via selulernya, Yusak menjelaskan, "aneh sekali! masa, mahasiswa aksi damai dengan jumlah masa sekitar 30-40 orang saja, aparat datang dengan pakaian lengkap kemudian menghadangi aksi damai di DPR-P. Ini sudah sangat keterlaluan. Mereka siaga seakan mau tembak mahasiswa. ini sudah sangat keterlaluan, pada hal mahasiswa hanya aksi damai, mereka meminta ruang demokrasi di buka, kemudian meminta dibebaskannya jurnalis asing ke Papua." ketika ditanya aksi dari jam berapa sampai jam berapa, Yusak menyampaikan, sekitar jam 11.00 - 14.00 Wit, dan aksi pun berjalan dengan damai."

Sementara itu, pihak DPR-P yang menerika tuntutan aksi dari mahasiswa tersebut, hanya menyampaikan, akan melanjutkan aspirasi mereka. Sementara itu, terkait kelanjutan aspirasi, Yusak menegaskan, "kami juga kurang tahu, aspirasi itu akan dilanjutkan ke mana". (M/G)

SISWA SMU DITEMBAK POLISI, ORANG TUA KORBAN LUMPUH



DEYAI, SuaraKaumTakBersuara- Orang tua korban atas nama Alpius Mote, siswa SMU Negeri, kini mengalami kelumpuhan atas peristiwa yang menimpah anaknya. Dalam Via selulernya, siang tadi, 7/10/2013, N/T, menjelaskan, orang tua korban hanya berbaring di tempat tidur dalam ketidak berdayaannya karena tak sanggup mengingat peristiwa yang menewaskan anak kesayangannya, dalam keadaan lumpuh.

N/T menjelaskan dalam Via selulernya, “kejadian penembakan terhadap siswa SMU Negeri, Alpius Mote, 23/9/2013 lalu, oleh Anggota Polsek Tigi, yang menyebabkan mati di tempat, Hingga saat ini, dikabarkan, Polisi belum mengakui dan mengusut tuntas siapa pelaku penembakan dari keanggotaan kepolisian setempat. Proses hukumnya pun ditenggelamkan karena tidak ada tanda-tanda yang dilakukan oleh pimpinan Kepolisian setempat atas peristiwa yang menewaskan siswa SMU tersebut”.

Orang tua korban adalah salah satu Pendeta di Gereja Kingmi Papua dan saat ini melayani di gereja Antiokia Waghete. Nama orang tua dari korban adalah Pdt. Daut Mote.  Saat mendengar anaknya ditembak, orang tuanya mengalami kelumpuhan fisik dan masih berbaring di tempat tidur karena tidak sanggup menerima peristiwa yang menimpah anaknya itu. Hingga saat ini, orang tua korban belum bisa melayani jemaat pada Gereja Antiokia tersebut.

Tambah N/T, “atas kasus tersebut, orang tua korban berharap, ada keadilan bagi anaknya yang telah ditembak mati oleh oknum Polisi tersebut". Ketika ditanyai, menurut N/T lagi, "dengan tubuh yang kakuh dan dengan genangan air mata, orang tua korban (pdt. Daut Mote) mengatakan ‘kami mau, oknum Polisi diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, atas kejahatan kemanusiaan terhadap anak kami’.”

Orang tua korban dan pekerja kemanusiaan di Papua masih sangat pesimis dengan keseriusan Polisi untuk mengusut tuntas pelaku penembakan warga Papua. Hingga saat ini, semua kasus penembakan yang dilakukan aparat Kepolisian terus ditenggelamkan dan tidak perna diusut, bahkan tidak perna ada rasa keadilan bagi korban dan keluarga korban. (M/G)

Sabtu, 05 Oktober 2013

DAERAH OTONOMI BARU HANYA UNTUK MENGHANCURKAN TANAH PAPUA



JAYAPURA, SuaraKaumTakBersuara – Dibalik Jeruji Besi, Lembaga Pemesyarakatan Abepura,
Jayapura, Papua, Selpius Bobii, melalui pengunjungnya,Ia menyampaikan, Daerah Otonomi Baru (DOB) hanya menghancurkan Tanah Papua. Hal itu disampaikannya, Jum’at, 4/10/2013, kemarin.

Selpius menyampaikan, terkait pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) yang menjadi agenda penting di DPD RI, Paul Sumino melakukan kunjungan ke daerah di tanah Papua untuk menampung aspirasi untuk DOB, baik pemekaran Propinsi, Kabupaten, dan Kota. Banyak pihak keberatan dan menolak dengan pemekaran DOB di Tanah Papua”. Menurut Bobii, “Sikap pemekaran juga datang dari Lukas Enembe, Gubernur Papua. Lukas mengatakan “Rakyat Papua tidak butuh pemekaran di tanah Papua. Saya menolak semua usukan Daerah Otonomi Baru”. Selpius juga menyebutkan sumber beritanya, sesuai dengan rilis yang didapatnya, yakni,  www.tabloidjubi.com/2013/10/03/gubernur-papua-tolak-usulan-dob/. Tambah Bobii, Daerah Otonomi Baru menjadi pintu masuk untuk menghancurkan Papua. (M/G)

PEMEKARAN DI PAPUA HANYA TUK PERCEPATAN PEMUSNAHAN




JAYAPURA, SuaraKaumTakBersuara – Pemekaran tanpa melalui prosedural yang tidak sesuai dalam sistim Pemerintahaan berdasarkan indicator Pemekaran, hanya akan menghancurkan tatanan Sosial dan Budaya Masyarakat Papua yang berdampak pada marjinalisasi dan kepunahan keaslian Papua. Dalam via selulernya, hari ini, minggu, 5 oktober 2013, Ketua Umum Persekutuan Gereja Baptis di Tanah Papua, Socratez Sofyan Yoman menegaskan, Sesungguhnya, pemekaran yang tidak prosedural hanya untuk memusnakan keaslian Papua.

Ketua Umum Baptis di Tanah Papua pun menyampaikan rilisnya kepada Gubernur Papua dan Papua Barat yang isinya “Kepada Yth Bapak Gubernur  Papua dan Papua Barat. Melihat belakangan ini tejadi pemekaran Kabupaten/Kota dan Propinsi di Papua yang liar dan miskin prosedur administrasi di Tanah Papua, maka segera dilakukannya sensus untuk jumlah penduduk asli Papua. Tujuan sensus untuk membuktikan berapa jumlah penduduk Orang Asli Papua yang sebenarnya. Pemekaran tidak melalui mekanisme dan Prosedural sesuai syarat-syarat Pemerintaan seperti, Wilayah; Penduduk; SDM; dan SDA. Yang terjadi adalah wilayah yang sama, rakyat yang sama tapi hadir dua atau tiga bahkan empat Kabupaten. Memang saya sadari dan tahu bahwa Pemekaran-pemekaran itu bagian dari Operasi Militer; Operasi Transmigrasi; Politik Pecah Belah Orang Asli; yang semuanya dilaksanakan oleh Pemerintah RI guna memusnakan Etnis Papua lebih aman dan cepat. Jumlah penduduk Asli Papua 1,7 juta Penduduk untuk sekarang ini. Apakah jumlah ini benar dan membutuhkan pemekarang Kab, Kota, dan Propinsi? Jawabanya hanya melalui sensus penduduk yang benar dan sungguh-sungguh dengan melibatkan Gereja-gereja dan LSM-LSM di Papua”.

Socratez mendesak Gubernur Papua dan Papua Barat untuk segera melakukan sensus penduduk agar mengetahui jumlah penduduk secara benar. Jumlah penduduk yang tiap tahunya makin berkurang, akan membahayakan kelangsungan hidup orang asli Papua di tanah leluhurnya. (Marthen Goo)

Kamis, 03 Oktober 2013

SELPIUS BOBII: "TERIMA KASIH ATAS KEMENANGAN PERSIPURA ATAS SANTOS"

Persipura Telah Mengajarkan Kita, Hanya Dengan Persatuan dan Kekompakan, Kemenangan Mudah Dirahi


JAYAPURA, SuaraKaumTakBersuara- Dibalik Jeruji Besi, melalui seorang penjaga, malam ini, Selpius
Selpius Bobii
menyampaikan terima kasih kepada Persipura yang telah menunjukan pada dunia kalau Papua pun bisa. Selpius pun menegaskan, "hanya dengan kekompakan dan kebersamaan serta persatuan, impian pun mudah terwujud". hal itu disampaikannya setelah para tahanan diijinkan nonton bareng di Lembaga Permasyarakatan Abepura, Jayapura, Papua, pada pukul 20.00 Wit - usai pertandingan.

Setelah menonton bola Persipura vs Santos dengan skor 2-1, kemenangan yang dirahi persipura, di mana permainan gemilang yang telah ditunjukan persipura dengan prestasi sepak bola yang lluar biasa, banyak tanggapan pun bersimpah ruah. 

Kemenangan Persipura atas Club Santos, sesungguhnya memberikan senyum pada seluruh rakyat Papua dan Pendukung Persipura Mania. Walau Santos adalah Cloub terbaik Brazil, namun persipura mampu menundukan mereka, dan tentu merupakan satu penghormatan yang besar. Melihat hal itu, Selpius Bobii, pun memberikan respon dan penghormatan yang besar terhadap Persipura. Selpius hanya bisa terharu atas kemenangan Persipura. Selpius pun mengatakan, "semua hal yang bersifat kolektif, akan terwujud jika ada persatuan dan kekompakan dari semua. Persipura telah mengajarkan kita pengetahuan yang besar dan penting. Kemenangan persipura datang dari kerja sama mereka dan keseriusan dalam latihan mereka serta kerja sama mereka".

Kini, Papua mulai dikenal di belahan dunia lain, walau lewat persepakbolaan yang telah ditunjukan oleh Tim Mutiara Hitam ini. (*** S/T)

Rabu, 02 Oktober 2013

SELPIUS BOBII : “KAMI BERTERIMAKASIH KEPADA PERDANA MENTERI VANUATU”

Gbr. Gabungan Perdana Menteri Vanuatu dan Selpius Bobii
JAYAPURA, SuaraKaumTakBersuara – Sepatutnya kami mengucapkan terimakasih kepada Pemerintahan Vanuatu yang mendengarkan jeritan kami dan bisa menyuarakan apa yang menjadi kerinduan dan kenyataan kami di Papua pada Sidang PBB. Kami sampaikan terimakasih yang mendalam pada Pemerintah Vanuatu, Khusunya pada Moana Kalosil Karkas , Perdana Menteri Republik Vanuatu. Hal itu ditegaskan Selpius Bobii, 1 Oktober 2013, melalui N/D, saat mengunjungi Selpius LP Abepura-Papua.

Terkait pernyataan Moana Kalosil pada debat Umum Sidang PBB, 28 September 2013, “Bagaimana kita kemudian mengabaikan ratusan ribu orang Papua Barat yang telah secara brutal dipukuli dan dibunuh? Orang-orang Papua Barat meminta PBB bertindak sebagai mercusuar harapan … Mari kita, dengan keyakinan moral yang sama menghasilkan dukungan terhadap penderitaan orang Papua Barat. Sudah saatnya bagi PBB untuk beraksi dan memperbaiki beberapa kesalahan sejarah,” dan Kalosil melanjutkan ”Belum ada transparansi yang memadai dalam menangani pelanggaran hak asasi manusia berat di Papua,”  Kemudian Kalosil pun menambahkan, “Jelas dari banyak catatan sejarah bahwa orang Melanesia di Papua Barat adalah kambing hitam politik perang dingin dan dikorbankan untuk memuaskan nafsu atas sumber daya alam yang dimiliki bangsa ini,” Seperti yang dirilis Jubi, 29 September 2013,  Ketuam Umum Front Pepera, Selpius Bobii pun merespon dengan mengucapkan terimakasih-nya yang mendalam mewakili rakyat Papua kepada Kalosil.


Kami, Front Persatuan Perjuangan Papua Barat (Front Pepera-PB) mengucapkan banyak terima kasih kepada Kalosil yang sudah bersuara dengan tegas di PBB atas masalah kami. Kami Juga Mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah dan Masyarakat Vanuatu yang sudah berkomitmen dan berkontribusi besar atas masalah Papua. Tegas Selpius Bobii dibalik trali besi Abepura-Jayapura, Papua.  (S/T)